Perjalanan Mimpiku “??”

Hari dimana hari yang sangat istimewa bagi kaum muslimin khususnya kaum adam (laki-laki). Jum’at itu aku terbangun pagi-pagi buta dengan fajar menghiasi bidang langit yang terlihat cerah walau sang surya belum nampak di ufuk timur dan tak terlihat di jendela mata setiap makhluk yang selalu mengisi dan menghiasi kehidupan di bumi ini. Mata yang sayup ini pun mencoba terbuka lebar layaknya jendela kamar yang di buka lebar agar udara yang segar dan sejuk tersebut dapat masuk menyegarkan semangat hari ini. Namun, apa daya mata ini terasa berat bagaikan terdapat sebuah beban yang menahan mata ini untuk terbuka.

Sebuah tempat yang tak terlalu luas pun seolah tersedia untuk diri ini, yang ingin menelantarkan diri kembali kedunia bayangan mimpi. Akhirnya tubuh ini pun terlelap kembali bersama kawan-kawan yang berada di sekitarku sambil memasang raut wajah yang lelah namun tersenyum dalam lelap mereka.

Pada waktu di mana fajar terlihat jelas menghiasi sanubari alam dan hamparan langit, terdengar beberapa suara yang membuat aku dan kawan-kawanku yang sedang menikmati mimpi-mimpi kita pun terbangun seolah menggertak diri kami yang masih berjalan di jalan yang sunyi dalam lelap. Dengan memaksakan diri aku dan kawan-kawanku yang dihiasi mata yang tersayup-sayup pun beranjak dari dunia maya yang membuat kita bagaikan berimajinasi dengan nyata, memaksakan mata dan tubuh ini memenuhi panggilan tersebut dengan beberapa ekspresi yang kami lakukan, entah menggeliat sambil merebah di tempat tidur beralaskan lantai, mengkucek mata hingga dapat terbuka lebar dan melihat jelas setiap objek di sekitar, atau beranjak mengambil beberapa peralatan dan kain pengering ke kamar mandi untuk bersenggama dengan air yang di jadikan sejuk oleh udara yang di subuh hari itu. Walau caraku dan kawan-kawanku sangat variatif untuk bagaimana beranjak dari alam lelap yang masih menyelimuti mata dan tubuh ini, namun kita semua melakukan satu cara dimana kami membasuh beberapa bagian-bagian tertentu tubuh untuk dapat menikmati sejuknya air di subuh hari itu dan melakukan sebuah rutinitas berjama’ah di sebuah bangunan yang besar, bersih, sejuk, dan terlihat sepi. Sepi karena tidak semua bisa berperang melawan mata yang sayup dan tubuh yang redup.

Namun niatku, kawan-kawanku dan beberapa warga penghuni sekitar Baitullah, tetap istiqomah dan mencoba untuk khusyuk walau terlihat dalam wajah kami ekspresi yang redup dan mata yang tersayup-sayup.

Dengan mengucapkan alunan-alunan indah dari sebuah ayat dan do’a kami pun melakukan ritual berjama’ah tersebut dengan dipimpin oleh seorang Imam yang menjadi langganan ketika kami menunaikan ritual tersebut di atas karpet hijau panjang.

Seusai aku melakukan kewajibanku yang di awal waktu dari lima waktu, aku kembali ke sebuah rungan yang sedang dengan beralaskan lantai putih dan terlihat beberapa bercak darah. “hmmmm… mungkin ini sisa-sisa perang yang terjadi semalaman bahkan terjadi setiap malam” aku bergumam. seperti itulah keadaan setiap malam di ruangan yang bersebelahan dengan tempat kami shalat dan melakukan beberapa kegiatan-kegiatan rohani serta silaturahmi, berperang dengan makhluk kecil yang berjumlah satu namun banyak kawan-kawannya sehingga kami selalu di buat repot oleh mereka.

Kewajiban yang telah ku laksanakan membuatku tenang dan damai, “saat ini ku menuntut hak ku kembali pada diriku untuk tidur, hehe” hatiku bergumam seolah mendemonstrasi diriku sendiri untuk kembali terlelap dan melanjutkan mimpiku. Namun kawan-kawanku selalu ramai berdiskusi setiap pagi sehingga membuat diriku seolah terangsang dengan beberapa topik yang didiskusikan oleh mereka untuk ikut berdiskusi tapi kadang aku pun merasa terganggu dan ingin melaksanakan hak-ku yang tertunda untuk terlelap. Akhirnya aku lebih memilih untuk beranjak pergi dari ruangan tersebut dan singgah ke ruagan lain dan bersenggama dengan air, serta membersihkan debu dan kotoran dari polusi lingkungan yang menempel pada tubuhku.

Setelah tubuh ini merasa di refresh dengan air yang menyegarkan, aku pun kembali ke ruangan yang sebelumnya menjadi tempat penuntutan hak-ku dan tempat dimana kawan-kawanku berdiskusi dengan ramai. Namun, ketika aku memasuki ruangan itu kembali semua dalam keadaan tenang dan forum dadakan tadi seolah telah terhenti ketika aku mengulur waktu memanjakan tubuhku di kamar mandi. aku hanya melihat sebagian kawanku yang sedang sibuk merapikan dan mempersiapkan diri untuk berangkat menuju kampusnya yang saat itu sedang ada jadwal ujian, serta melihat satu orang kawanku yang memiliki feeling yang sama denganku yaitu penuntutan hak terhadap diri untuk kembali terlelap dan melepas lelah setelah semalam begadang dan bisa tertidur ketika dini hari.

Aku pun menghamparkan tubuh yang masih terasa sedikit redup ini di samping kawanku yang mungkin sudah sampai dalam ruangan mimpinya. Sambil membaca sebuah buku yang berisikan tentang variasi do’a saat ini, aku pun jadi teringat sebuah buku novel inspiratif yang baru 6 hari yang lalu aku beli, ternyata belum selesai aku baca, tinggal beberapa lembar halaman lagi. Dengan posisi tubuh yang terbaring di atas lantai yang dingin seolah membius dan merangsang mataku untuk terlelap, beberapa kemudian tak terasa aku pun tertidur pulas dan terasa seperti sedang berjalan menuju topik mimpiku kali ini.

Dalam mimpiku aku berjalan seolah kembali mengingat kenangan my childhood memories, dimana ketika itu aku tidak tinggal bersama satu atap dengan mereka. mereka yang harusnya selalu ada di sampingku dan membimbing setiap langkahku yaitu my parent. Tak kusangka mimpi ini kembali mengingatkan aku tentang setiap kesalahan-kesalahan yang kusesalkan dalam hidupku, tentang sebuah sikap yang mungkin hai tersebut di luar harapan mereka(my parent) yang jauh di sana. Tapi harusnya aku bersyukur tetap tinggal dengan bagian keluargaku saat itu walau bukan orang yang sepenuhnya bertanggungjawab atas diriku namun mereka tetaplah bagian keluargaku. dalam fikirku sebenarnya aku masih menjadi orang yang sangat beruntung dibandingkan dengan mereka yang ku temui di setiap tepian jalan dan kolong jembatan, yang mungkin tak merasakan rangkulan dan sokongan dari pihak yang bertanggungjawab atas dirinya, entah itu keluarga yang menafkahi dan mengasihinya ataupun pemerintah yang dengan panduan undang-undangnya berjanji melindungi dan membina anak bangsa khususnya mereka yang kurang beruntung. sungguh ironis, dengan program pemerintah yang mengutamakan pemerataan pendidikan agar mencetak generasi bangsa yang arif tapi pada realitanya mereka hanya terdiam melihat kucuran keringat dan air mata yang berjatuhan di jalanan. Hatiku bergumam “mana keadilan yang engkau junjung tinggi wahai orang yang menduduki kursi di gedung sana bagaikan raja tak bersuara??”. Kita tahu bahwa raja-raja disana mayoritas seorang muslim yang menjadi khalifah yang mesti ia pertanggangung jawabkan kelak dan aku yakin mereka tahu akan hal itu. tapi sudahlah keadilan sempurna itu tetap akan menjadi sebuah realita hidup sampa akhirnya tiba, walau mungkin mereka tahu dalam beberapa Firman-NYA, Allah selalu mendahulukan kata ‘adl (keadilan) contoh seperti dalam Q.S. An-nahl : 90.

Mimpiku pun tak berakhir dengan gambaran-gambaran orang yang kurang beruntung tersebut. selanjutnya, aku melihat wajah-wajah orang tua ku yang sering aku tatap di setiap hariku di atap rumah singgahku dan mereka seolah memberi pesan pada diriku dan berkata “Nak, jadilah orang yang bermanfaat buat adik-adikmu kelak, agama, lingkungan sekitar dan bangsa ini”. “Insya Allah ma, selama do’a mu selalu menyertai jalanku dan aku dalam lingkungan serta jalan yang baik”, diriku menjawab dengan rasa berat di hati seolah mendapat amanah yang berat untuk aku bawa dan aku jalani di setiap hariku. aku pun teringat akan sebuah  pertanyaan dari seorang muslim kepada Imam Ghazali sekaligus menjadi pertanyaan bagi umat muslim serta diriku.

“Tahukah kamu apa yang paling jauh dalam hidup kita?

apa yang paling dekat dalam hidup kita?

apa yang paling sulit dalam hidup kita?

apa yang paling mudah dalam hidup kita?

dan apa yang paling indah dalam hidup kita?”

Imam Ghazali pun menjawab,

“yang paling jauh dalam hidup kita adalah masalalu

yang paling dekat dalam hidup kita adalah kematian

yang paling sulit dalam hidup kita adalah menjaga amanah

yang paling mudah dalam hidup kita adalah berbuat dosa

dan yang paling indah dalam hidup kita adalah memaafkan”

Begitulah jawaban beliau seolah menjelaskan kembali apa yang di jelaskan Rasul dalam beberapa hadist dan menggambarkan tentang hidup ini.

Kemudian, dalam mimpiku aku berjalan jauh meninggalkan orang tua ku dan pergi merantau dengan niat thalibul ‘ilm yang aku kukuhkan dalam hatiku untuk dapat menjada sesuatu yang paling sulit dalam hidupku, menjauhi sesuatu yang paling mudah dalam hidupku dan mempersiapkan untuk sesuatu yang paling dekat dalam hidupku. Ketika di perantauan aku mendapat masalah dengan berbagai pihak serta dengan diriku sendiri, untuk dapat mengetahui apa akhir dan tujuan mimpiku dalam lelap ini? Kesulitan demi kesulitan menimpa diriku  dan aku seolah goyah dalam mimpiku seakan terus tersandung kerikil-kerikil yang berada di jalanku yang membuat diriku terjatuh dan terjatuh lagi. “Akan kah suatu saat nanti aku akan benar-benar jatuh dan tak bisa untuk bangkit kembali dalam kesulitan ini?” hatiku bertanya seperti mulai menimbulkan virus-virus pesimis dalam diriku. Tapi aku dalam keadaan seperti ini seharusnya aku ingat bahwa “sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (Q.S. Al-Insyirah (94) : 8). aku pun berusaha bangkit dalam mimpi di dalam lelapku untuk terus berjalan dan untuk menemukan “dimana akhir topik mimpiku kali ini”, aku pun bertanya dalam fikirku. Sungguh terasa aneh mimpiku ini seolah-olah ada makna yang disampaikan di dalam mimpi ini untuk diriku dan hidupku dari-NYA Sang Pemberi Mimpi.

Mimpi ini belum berakhir, aku masih terus berjalan tertatih-tatih mencari dimana ujung jalan mimpi ini. Perjalananku seolah berhenti di sebuah rumah dengan halaman luas dengan tanaman indah sehingga udara terasa sejuk dan bangunan rumah yang terlihat agak sedikit tua dengan tekstur bangunan rapih namun terlihat bermodel lama. “Rumah siapa ini kenapa aku bisa berhenti disini?” Aku bertanya-tanya dan berfikir seakan-akan aku sangat mengenal tempat ini. Kemudian aku seperti melangkahkan kakiku, berjalan menuju pintu masuk rumah tersebut yang aku temukan dalam mimpiku. Aku coba mengetuk pintu kayu berwarna coklat dengan jendela berkaca besar dan lebar disebelah pintu tersebut, “Assalamu’alaikum…. tok…tok” Aku mengucapkan salam sambil mengetok pintu tersebut. Tak lama kemudian sesosok wanita membuka pintu  muncul dihadapanku sembari menjawab salamku, aku merasa kaget dan heran tentunya karena wanita tersebut adalah adik dari Ibuku. Aku pun bersenggama dengannya dan menyalaminya, tapi aku merasa sangat heran karena kenapa dia berada dalam mimpiku? ada keterkaitan kah dengan topik mempiku kali ini?

Selama dalam rumah tua yang dimiliki oleh orang tua dari ibuku aku sekedar melakukan silaturahmi dan saling berbincang-bincang dengan keluargaku yang berada di rumah tersebut. Namun, saat itu dalam mimpiku aku tak melihat sosok lelaki tua yang selalu bersemangat dalam beraktifitas dan hebat serta berhasil mendidik anak-anak yang hebat salah satunya ibuku dan wanita tua yang luar biasa yang memiliki kesabaran luar biasa dalam membina dan merawat anak-anaknya. Mereka berdualah pemilik rumah yang nyaman tersebut dan mereka pula yang senantiasa menjadi pengganti orang tuaku ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar selama bertahun-tahun. “Kemana mereka?” aku bertanya-tanya. “Mereka sudah tidak disini, mereka sudah mempunyai rumah yang megah, sejuk, dan nyaman di sana” Bibiku merespon keherananku.

aku kembali bertanya-tanya apa maksud dari bibiku merespon dengan jawaban seperti itu. Setelah aku berbincang-bincang ternyata mereka berdua telah kembali kepada Sang Khaliq, ketempat yang semestinya mereka kembali dan tempat dimana kita semua pun akan kembali. nafasku serasa sesak sejenak setelah mendengar berita tersebut dan aku terbayang pengalaman kecilku bersama mereka, aku sedih dan menyesal karena belum sempat meminta maaf atas kesalahan yang ku perbuat saat bersama mereka dahulu. Ketika mendengar hal tersebut aku kembali termenung mengingat nasihat Imam Ghazali bahwa “yang paling dekat dengan kita adalah kematian.”

Aku teringat akan kesempatanku kembali pada-NYA, dan bagaimana jika besok adalah kesempatanku atau orang tuaku. sungguh aku belum siap dan belum ada bekal yang cukup untuk menjalaninya, “Astagfirullah“.

Setelah beberapa lama aku berbincang-bincang dengan bibiku dalam mimpi itu, aku mendapat sebuah amplop kecil yang berisikan selembar kertas panjang dengan tulisan tangan yang tersusun rapih di atasnya dan sepertinya aku kenal tulisan tersebut, tidak asing, dan sering aku lihat. “Tulisan ini seperti tulisan ayahku” hatiku berkata sambil mengingat-ingat dan memperhatikan tulisan tersebut. Penasaran menyelimutiku karena biasanya tak pernah sekalipun ia mengirimkan sepucuk surat kepadaku, yang pernah ia dan sering ia kirimkan hanya SMS singkat saja kepadaku, rasa penasaran ini semakin memuncak dan perasaan ini mulai merasa tidak mengenakan. “Kira-kira apa isinya yaa?”, Aku mulai membacanya perlahan-lahan.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Apakabar anakku di sana? Ayah di sini selalu mendo’akanmu agar senantiasa dalam keadaan baik dan sehat wal ‘afiat serta semoga aktivitasmu lancar dalam meraih mimpi-mimpimu.

mungkin ini adalah surat pertama dan terakhir yang ayah kirim dan berikan padamu pada kesempatan ini, tapi tetaplah kau anak pertama yang ayah banggakan seumur hidup ayah walau sebelum-sebelumnya komunikasi kita kurang begitu baik. Sebenarnya ayah ingin sekali berbincang denganmu namun apa daya inilah sifat ayah, mungkin ananda sudah mengerti sifat ayah selama ini yang cenderung pasif terhadap dirimu dan keluarga, tapi dibalik semua itu ayah sayang pada kalian semua. Saat ini dirimu sudah beranjak dewasa dan sudah seharusnya bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk dalam perjalanan hidupmu. Ananda, ayah hanya berpesan jadilah pribadi yang baik dan bermanfaat bagi seluruh kalangan dan lingkungan sekitarmu terutama keluargamu, ibumu dan adik-adikmu, serta jagalah mereka. Ayah ingin pergi sejenak hanya untuk melepas lelah dalam diri ini. Sejujurnya ayah sangat sayang padamu. Tetaplah bersemangat dalam hidup dan selalu bekerja keras. Ayah selalu mendo’akanmu agar sukses di dunia dan di akhirat serta jauhilah hal-hal yang dapat menjelekan dirimu dan keluargamu.

Wassalamu’alaikum

ttd

Ayahmu


Hatiku bergumam dan mencoba dengan keras memahami ini surat tersebut, “apa maksud Ayah mengirimkan surat ini? apa maksud kata-kata ayah ‘…ini adalah surat pertama dan terakhir’, dan apa maksud ayah menjaga keluarga, ibu dan adik-adikku yang seharusnya ia yang mempunyai tanggungjawab itu?”. Kemudian di balik pintu depan yang berwarna coklat di dekat tempatku berbincang dengan bibiku munculah sesosok wanita dan beberapa anak-anak yang tidak lain mereka adalah ibuku dan adik-adikku. Dengan memasang wajah yang menekuk sambil tersenyum yang seolah menutupi kesedihan ibuku menghampiriku, dan adik-adikku berlarian menghampiriku dan memeluku dengan jerit tangis mereka yang keras dan tersedu-sedu.Aku bingung, Aku benar-benar dilanda kebingungan dalam mimpiku ini. sambil merangkul adik-adiku yang menangis dan aku mencoba meredakkan mereka ibu berkata padaku, “Nak, apa sudah kamu baca surat dari ayahmu?“. “Sudah”, jawabku. “ibulah yang mengantarkan surat itu padamu”, ibuku menjelaskan tentang surat itu padaku. Ternyata Ibukulah yang mengantarkan surat itu pada bibiku untuk menyerahkannya padaku dan mereka menunggu di luar sejenak menahan haru lalu masuk kedalam setelah aku membaca surat tersebut.  tapi kenapa ia bisa tahu aku berada disini? ini sungguh mimpi yang memuncakkan rasa penasaranku. “Nak, itu adalah pesan terakhir ayahmu untuk yang saat ini sudah takkan bersama kami lagi di rumah” ibu menjelaskan kembali tentang maksud surat itu, tapi mendengar penjelasan yang ini aku sangat kaget dan entah kenapa emosiku seperti memuncak, bukan karena kesal tapi tidak percaya akan hal ini. Selain emosiku yang kian memuncak, air mata perlahan menetes ke atas lantai dalam rumah tua tersebut. Aku sungguh telah mendapatkan dua berita yang amat tak kupercaya dan membuat nafas ini seakan-akan terhenti untuk sejenak dan kesedihan ini pun tak dapat ku bendung lagi, “ya Allah, kenapa tidak aku saja yang Engkau panggil kenapa harus ayahku? aku tak sanggup, aku tak sanggup untuk menjaga dan menjalani amanah ayahku dan amanahmu ini” aku merenung seolah tak mengikhlaskan hal ini terjadi. Bagaimana aku bisa menghadapi ini semua dan menjaga amanah ayah dalam surat itu untuk menjaga keluarga, ibu dan adik-adikku? Sungguh amanah ini akan sangat berat aku jalani.

Menerima kabar itu aku merasa lemah tak berdaya dan badanku bagaikan terserang lumpuh tiba-tiba. Namun, haruskah aku terus larut dalam kesedihan ini? haruskah ku menjadi benar-benar lumpuh atas semua yang memang harus terjadi pada waktunya?

Aku harus mencoba Ikhlas, benar-benar ikhlas. Tapi bagaimana caranya mengikhlaskan hal ini. sementara aku tak tahu bagaimana pula menjalani semua amanah ini. Kejadian ini menyadarkan benakku bahwa memang sungguh benar-benar sesuatu “yang paling sulit dalam hidup kita adalah menjada amanah“. maka haruslah kita berjuang menjaga amanah sebaik-baiknya dalam segala hal. Aku tetap bingung bagaimana diriku bisa ikhlas dengan semua hal yang ku alami, aku tahu ini adalah sebuah peristiwa yang telah Ia gariskan dalam kehidupan yaitu tentang sebuah kematian, tidak bukan sebuah kematian tapi sebuah jalan untuk kembali. aku sungguh tak tahu bagaimana cara mengikhlaskannya dan bagaimana bersikap ikhlas sementara aku tak begitu paham esensi makna dari kata IKHLAS tersebut.

Rasulullah berkata: saya bertanya kepada jibril tentang apa itu ikhlas? lalu jibril menjawab: saya bertanya kepada Tuhan tentang apa itu ikhlas? dan Tuhan pun menjawabnya: itu adalah rahasia dari rahasia-KU yang Aku titipkan pada hati orang yang aku cintai diantara hambaku” (H.R. Al Qazwaini)

Teringat tentang hal yang pernah aku dapatkan dari sebuah hadist aku memutuskan untuk belajar ikhlas dengan cara bagaimana menjadi kekasih-NYA. Sehingga aku dapat menemukan cara untuk benar-benar Ikhlas atas mereka. Dalam hal ini masih ada satu hal yang membebani diriku dalam mimpiku, yakni menjaga amanah yang di sampaikan ayah melalui sepucuk surat itu. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, sebagaimana telah disebutkan dalam hadist tentang hal ini.

Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang bermanfaat bagi orang lain” (H.R. Bukhari).

Selain itu aku pun harus dapat menjaga keluarga, ibu dan adik-adikku. bisakah aku menjaga dan menjalankan amanah ini? padahal hidupku pun masih tergantung pada pemberian orang tua saat ini, bagaimana bisa aku menjalaninya. Tapi dengan keyakinanku untuk teguh dalam belajar ikhlas, aku akan memulai semua itu dari sekarang dan mencoba merubah jalanku dan hidupku demi sebuah amanah sempurna yang ku emban dalam mencapai kearifan hidup ini. Karena, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’d (13) : 11). begitulah peringatan-NYA terhadap kita dan terhadap diriku tentang sebuah perubahan.

Setelah seolah larut dalam kesedihan di dalam mimpiku, aku terbangun dengan air mata yang tak terasa membasahi kelopak mataku, “ternyata hanya mimpi” aku berkata sambil menghela nafas. Kemudian diriku pun duduk termenung atas mimpi itu dan berfikir bagaimana jika semua itu adalah sebuah kenyataan yang terjadi dalam realita hidupku? dan apakah aku akan menjadi seperti dalam mimpiku yang sulit ikhlas atas kejadian yang menimpaku seperti dalam mimpi? siapkah nanti diriku menjalani semuanya saat peristiwa itu tiba? Wallahu ‘alam, aku hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik dalam hidup ini untuk keluarga, dan adik-adikku. Mudah-mudahan mimpi yang aku alami ini bukan menjadi pertanda buruk atas kehidupanku namun, sebuah peringatan untuk hidupku agar menjadi lebih baik serta menjadi sebuah motivasi untuk menggapai mimpi-mimpiku. Allahuma amiin!!


by: rifqi_sangpemimpi

“salam inspirasi!!!”

Posted on Desember 19, 2011, in Ruang Galau. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: