Islam di Prancis

Oleh: M. Rifqi Syahrizal (Mahasiswa UIN SYAHID Jakarta)

Prancis adalah salah satu negara yang terletak di benua Eropa. Dalam pandangan religius Negara Prancis adalah Negara yang kita anggap Sekuler karena selain menganut secularistic goverment Prancis juga memiliki sistem Negara yang Sekuler dalam kebebasan beragama, itulah sebabnya hal ini menjadi  hak konstitusional, artinya setiap warga negara yang ingin memeluk agama sesuai dengan kepercayaannya ditentukan secara penuh oleh konstitusi negara yang ada, dan saya melihat hal ini adalah sistem yang mana unsur religi/agama dan negara tidak dapat disatukan, semua bergantung pada undang-undang sebagai konstitusi negara dalam mengatur hal-hal intern dalan sebuah negara termasuk agama.

Di Negara Prancis terdapat berbagai macam agama yang di anut oleh warga negara Prancis sendiri dan juga para Imigran yang berdomisili di Prancis. Keberagaman agama tersebut Menurut jajak pendapat Januari 2007 oleh Catholic World News terdiri dari, 54% Kristen, 32% ateis/tidak beragama, 4% Islam, 1.2% Budha, 1% Yahudi, dan 10% Agama lainnya dari 224 juta jiwa pada tahun 2007.

Menurut saya diantara beberapa agama yang berkembang di Prancis, Islam adalah salah satu agama yang paling berkembang di Prancis, walau sejak dulu telah ada namun perkembangan pesat agama Islam terlihat ketika awal Abad 20 yang terjadi imigrasi massal Muslim ke Prancis yang membuat negara ini menjadi salah satu negara dengan komunitas Muslim terbesar di Eropa, Menurut salah satu artikel Wikipedia tentang Islam di Prancis. Imigrasi tersebut ternyata juga memacu beberapa masyarakat pribumi memeluk agama Islam.

Pada tanggal 17 September 2011 dalam media elektronik Vivanews.com, terdapat artikel berita dengan tajuk “Prancis Larang Salat Berjama’ah di Jalan”. Pemberitaan ini menurut saya sangat menarik sekaligus kontroversial bagi saya orang yang sama beragama Islam, karena pada hakikat ke-Islaman setiap muslim itu bersaudara, entah Muslim yang ada di Indonesia, Prancis dan di belahan dunia lainnya. Menurut saya walau pun negara Prancis adalah negara sekuler harusnya dalam hal ini terdapat sikap toleransi khusus. Sebagaimana kita ketahui Prancis melarang umat Muslim perempuan di Prancis untuk menggunakan cadar pada era saat ini bahkan dahulu pada sekitar tahun 1989, pemakaian jilbab di anggap sebuah kasus pelanggaran konstitusi sehingga barang siapa yang mengenakan jilbab ia akan mendapatkan hukuman atau sanksi dari pemerintah setempat. Dalam Buku Gilles Kepel yang berjudul Allah in the West, ketika tahun 1905 pemerintah Prancis pernah membuat undang-undang yang menjamin kebebasan beragama, namun dari tahun tersebut hingga saat ini sesungguhnya banyak sekali yang mengingkari undang-undang tersebut. Sehingga pada saat ini pemerintah Prancis banyak mengeluarkan aturan-aturan yang merugikan pihak Muslim, seperti di larang melakukan Salat berjama’ah di area publik.

Dalam pengamatan saya tersirat pertanyaan, Sebenarnya apa tendensi pemerintah Prancis sehingga membatasi aktifitas beragama pada warga negaranya khususnya yang memeluk Islam? Karena seolah Islam yang banyak di batasi oleh pemerintah Prancis. Apakah bermaksud untuk memerangi? Atau hanya sekedar pembatasan yang menghindari kericuhan publik karena terlalu Islam terlihat mencolok dan beda dari yang lain. Ada di pihak manakah sebetulnya pemerintah Prancis dalam konteks ini. Kawan atau Lawan sebagai orang-orang kafir yang bertendensi merusak dan menghancurkan Islam, jika kawan harusnya memiliki rasa toleransi, namun jika lawan dalam hal ini seorang Muslim harus berprilaku keras terhadap orang kafir, sebagaimana kutipan Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “…….. berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang muafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”. (Q.S. At-Taubah : 73). Dalam kutipan ayat tersebut menurut saya sudah jelas bahwa kita sebagai Muslim memang harus bersikap keras terhadap orang kafir, apalagi pihak yang menghalang-halangi menuju jalan Allah, karena pihak tersebutlah yang menjadi salah satu ciri orang kafir sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an ciri-ciri orang kafir : “Allah yang memiliki segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Q.S. Ibrahim : 2-3).

Kunci dari kemaslahatan bersama dalam hal ini menurut saya ialah toleransi yang tinggi, namun tentulah jika terjadi pelanggaran-pelanggaran yang secara diskriminatif merugian sebagian pihak haruslah ada kritik tegas dan perlakuan tegas. Dalam hal ini masih banyak hal-hal yang kontroversial, tetapi jika kita ingin adanya perubahan yang lebih baik untuk menuju kemaslahatan bersama perlulah kita mulai dari diri sendiri dan lingkungan kita sendiri karena “… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Q.S. Ar Ra’d : 11)

Wallahu a’lam bisshawab!

Sources/References:
-) wikipedia.com
-) N.A. Baiquni, “Indeks Al-Qur’an”
“salam inspirasi!!!”

Posted on Desember 19, 2011, in Artikel, Karya Tulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: