“DARI DESA KE KOTA” (Essay Kebahasaan)

Oleh: M. Rifqi Syahrizal

            Bahasa secara universal merupakan seperangkat atau lambang atau simbol bermakna yang menjadi alat untuk berkomunikasi. Bahasa juga bisa disebut sebagai simbol komunikasi yang bersifat arbiter, maksudnya sebuah bentuk komunikasi yang sama rata atau manasuka antara satu individu dan individu lain. Seperti ketika kita mengatakan makan atau menuliskan makan, maka kita semua sepakat bahwa kata tersebut merupakan kegiatan untuk mengatasi rasa lapar dengan memasukan sesuatu kedalam mulut untuk mengisi perut.

            Maka dari itu bahasa selalu berkembang seiring perubahan zaman, seolah melakukan “inovasi” dalam berbahasa dan berkomunikasi. Namun, “inovasi” tersebut juga seringkali menyalahi kaidah-kaidah dalam berbahasa. Padahal sejatinya bahasa memiliki kaidah-kaidah tersendiri dalam disiplin ilmunya, entah itu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan lain-lain.

            Banyak sekali fenomena-fenomena berbahasa yang menarik, unik bahkan aneh yang berada disekitar kita, entah dalam bentuk lisan maupun tulisan. Fenomena tersebut selalu kian bermunculan disekitar kita dan menjadi populer di beberapa kalangan masyarakat. Tetapi seiring bermunculan fenomena berbahasa yang menjadi populer tersebut, ada hal yang sangat mengherankan yaitu, mengapa orang-orang atau beberapa kalangan masyarakat mengikuti fenomena dalam berbahasa yang baru populer yang menyalahi kaidah dalam berbahasa? Padahal mereka pun tahu bahwa hal tersebut menyalahi kaidah dalam berbahasa.

            Melihat pemaparan-pemaparan di atas yang merupakan sedikit realita tentang bahasa yang saya ketahui. Saya bertujuan untuk mencoba menganalisa fenomena-fenomena berbahasa yang hadir dalam kehidupan kita secara lisan dan tulisan, yang berasal dari kebiasaan-kebiasaan bahasa daerah, yang ternyata masih terlihat ada dan digunakan ketika menggunakan Bahasa Indonesia dalam pembicaraan sehari-hari juga dalam tulisan-tulisan yang saya temukan. Maka dari itu, hal ini seolah menjadi perjalanan bahasa yaitu “perjalanan dari desa ke kota”, dimana setiap masyarakat desa atau daerah tertentu di Indonesia mempunyai dan menggunakan bahasa daerahnya tersendiri dalam berkomunikasi, sementara masyarakat kota lebih cenderung menggunakan bahasa pemersatu yakni Bahasa Indonesia walaupun masyarakat kota tersebut adalah masyarakat desa yang melakukan urbanisasi.

            Saya menemukan hal yang unik jika terdapat seseorang berbicara bahasa Indonesia namun masih kental dengan logat atau intonasi bahasa daerahnya, saya pun mengambil beberapa contohnya seperti orang Sunda, orang Jawa, orang Medan dan orang Padang atau Minang.

            Pertama ,ciri-ciri orang Sunda yang masih memiliki kekentalan Bahasa Sunda ketika menggunakan Bahasa Indonesia, terlihat dari intonasi ketika mereka berbicara atau berkomunikasi misalnya. Pada akhir kata atau kalimat yang terdapat penekanan intonasi namun terucap secara halus bukan terlihat seperti orang marah, karena ada juga beberapa orang bilang bahwa orang Sunda yang benar-benar kental akan Bahasa Sunda-nya jika ia marah bahasanya seperti tak berubah, hanya sedikit naik sedikit intonasi pengucapannya, sehingga tak terlihat seperti orang marah jika hanya mendengar suaranya saja. Contoh penekanan intonasinya seperti ketika mengatakan “kamu mau kemana?” Kata yang digaris bawahi tersebut adalah intonasi yang naik ketika dikatakan.

            Selain itu kadang juga sering terdapat tambahan diakhir ucapan seperti tambahan teh, atuh, mah dan lain-lain. Beberapa contoh sederhana yang sering saya temukan yaitu, “Gimana atuh…… ?”, “kamu teh orang mana sebenarnya?”, “aku mah orang sunda”. Kemudian, ada juga tentang pengucapan huruf “e”, yang kadang menjadi “eu” dalam intonasinya. Kurang lebih itulah perjalanan bahasa dari orang yang berbahasa Sunda yang kemudian datang ke kota dengan berbahasa Indonesia, tapi masih ada unsur kedaerahan di dalamnya.

            Selain tentang intonasi yang unik secara lisan, ada pula hal unik lainnya yang menunjukan ciri khas Bahasa Sunda secara tulisan. Hal unik yang sama tentang Bahasa Sunda yang ditemukan di beberapa jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain-lain.

            Semua keunikan itu terlihat dari beberapa orang yang membuat status atau komentar dengan menambahkan teh, atuh, mah dan lain-lain. Bahkan kebiasaan Bahasa Sunda yang di pakai ketika berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia di situs-situs jejaring sosial, seolah menstimulus para pemilik akun lain untuk kemudian melakukannya juga. Hal ini sangat mudah kita temukan, bahkan jika ia menulis secara non-formal pun kata unik tersebut sering disisipkan.

            Kedua, bahasa daerah Jawa atau Suku Jawa yang juga mempunyai keunikan tersendiri ketika terdapat orang jawa atau suku jawa yang melakukan pembicaraan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Terdapat beberapa keunikan dari bahasa daerah yang mempengaruhi si pembicara yang orang Jawa terhadap Bahasa Indonesia yang ia gunakan. Contoh yang saya temukan dalam pembicaraan atau yang hadir secara lisan diantaranya yaitu penekanan intonasi yang terdengar tebal dan terdapat penekanan khusus pada beberapa huruf seperti huruf “J, D, dan B”.

            Selain itu penggunaan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama yang sering digunakan di dalam bahasa Jawa juga sering muncul di kehidupan kita, baik dalam pembicaraan (lisan) atau dalam artikel, komentar di jejaring sosial, dan lain-lain (tulisan). Kenapa penggunaan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama juga termasuk dalam hal ini? karena menurut buku Ajip Rosidi yang berjudul “BUS BIS BAS”, kata “aku” merupakan kata ganti orang pertama yang seharusnya digunakan hanya dalam sastra atau menurut kaidahnya kata “aku” tersebut merupakan kata yang digunakan untuk karya-karya sastra bukan untuk dipakai dalam komunikasi sehari-hari, artikel, essay, laporan dan lain-lain. Jadi hal ini pun mungkin merupakan salah satu penyelewengan kaidah dalam berbahasa, karena kata “aku” seharusnya tidak digunakan dalam suatu hal selain sastra, mestinya kita menggunakan kata “saya” sebagai kata ganti orang pertama yang baik menurut kaidahnya.

            Makanya kata “aku” sering pula digunakan sebagai kata yang mempunyai unsur romantis, sehingga ketika seseorang sudah berada dalam romantisme bersama pasangan atau pacar sering sekali menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama, sebenarnya unsur romantisme itulah yang juga termasuk sastra. Kurang lebih itulah perjalanan dari tanah jawa ke kota yang kebanyakan menggunakan Bahasa Indonesia.

            Ketiga, ada Bahasa Medan atau Batak yang berasal dari salah satu daerah, wilayah atau provinsi di Sumatra Utara, walaupun sebenarnya saya kurang tahu keunikan apa yang banyak atau sering muncul pada orang yang berasal dari lokasi-lokasi tersebut atau Bahasa Medan/Batak, tetapi saya hanya mencoba memaparkan hal yang saya temukan juga dari orang yang berasal dari medan dan sekitarnya yang ketika merantau ke Jakarta dan menggunakan Bahasa Indonesia.

            Namun, ketika ia menggunakan Bahasa Indonesia terdapat kebiasaan bahasa daerah yang masih sering digunakan seperti, kata ganti orang pertama yang seharusnya “saya” dalam Bahasa Indonesia tapi orang medan atau orang batak sering sekali saya temui ketika mereka menggunakan kata “awak” yang mempunyai arti orang pertama atau sebagai kata ganti orang pertama. Hal ini juga menurut saya salah satu perjalanan bahasa Desa atau Daerah Medan/Batak yang melakukan urbanisasi dan kemudian berdomisili di kota, lalu menjadi Bahasa Indonesia yang terdapat unsur Bahasa Daerah Medan/Batak.

            Yang terakhir, bahasa daerah yang mempengaruhi Bahasa Indonesia yang saya analisa dan temukan ialah Bahasa Padang atau Bahasa Minang. Bahasa ini juga mempunyai hal yang unik ketika mempengaruhi Bahasa Indonesia.

            Orang Padang atau Suku Minang yang masih kental akan bahasa daerahnya ketika menggunakan Bahasa Indonesia ada beberapa hal yang saya temukan terkait keunikan berbahasa Indonesia yang datang dari kebiasaan bahasa daerah Padang atau Minang. Keunikan tersebut juga terkadang saya temukan secara lisan maupun tulisan.

            Ada beberapa keunikan orang Padang atau Minang yang berbahasa Minang ketika datang ke kota Jakarta misalnya, kemudian berbahasa Indonesia. Seperti penggunaan kata “do” misalnya ketika orang Minang tersebut mengatakan “tidak ada” maka terkadang yang saya temukan ia mambahkannya menjadi “tidak ada do”, sementara kata “do” tersebut tidak memiliki arti tersendiri. Hal ini juga pernah saya temukan di situs jejaring sosial ketika orang pada berkomunikasi di dalamnya. Selain kata “do”, keunikan lainnya ialah penggunaan kata “kami” yang terkadang orang Minang menggunakannya sebagai kata ganti orang pertama, padahal menurut kaidah “kami” merupakan kata ganti orang pertama dan kedua (jamak). Seperti yang pernah saya dengar dari teman saya sendiri, orang Minang. Ia berkata, “jadi, presentasi kami besok bagaimana bu?” padahal ketika itu ia hanya berbicara secara face to face terkait hubungan yang hanya mereka berdua saja yang terlibat di dalamnya. Inilah perjalanan unik orang Minang, dari desa ke kota.

            Keempat fenomena kebahasaan di atas yang terkait dengan kebiasaan bahasa daerah yang mempengaruhi Bahasa Indonesia dalam penggunaannya, merupakan fenomena kebocoran bahasa yang dalam ilmu kebahasaan disebut Diglosia. Dimana kebiasaan berbahasa dalam bahasa-bahasa daerah yang disisipkan ke dalam Bahasa Indonesia seolah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia itu sendiri, padahal tidak sama sekali.

            Kemudian, gangguan atau kesulitan yang hadir dalam kebiasaan bahasa daerah di dalam proses penyampaian bunyi dalam ilmu kebahasaan disebut Interferensi. Definisi Interferensi adalah gangguan atau kesulitan dalam proses penyampaian bunyi atau penguasaan bunyi yang terpengaruh dalam penggunaan bahasa pertama (bahasa ibu) ke bahasa kedua.

            Sifat bahasa selalu berkembang setiap waktu dalam komunikasi, sehingga masih banyak sekali keunikan-keunikan dalam berbahasa yang hadir disekitar kita dan kadang hal tersebut terasa menarik. Namun, jika hal tersebut menyalahi kaidah kita perlu mengkajinya dan membenarkannya sebagai orang atau manusia yang peduli akan keteraturan berbahasa, khususnya dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pemersatu suku-suku dan daerah-daerah yang sangat majemuk di Indonesia. Marilah kita berbahasa dengan baik dan benar, khususnya dalam berbahasa Indonesia.

 

“salam inspirasi!!!”

Posted on Desember 19, 2011, in My Notes. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: